Peranan Keluarga dalam Pendidikan Nilai dan Karakter untukAnak
Nama : Nada Putri Pertiwi
NIM : 19005129
Tugas Artikel Pendidikan Keluarga
Peranan Keluarga dalam Pendidikan Nilai dan Karakter untukAnak
Dalam sebuah keluarga yang memiliki peranan pentingdalam memberikan pendidikan bagi anak-anaknya adalah orang tua. Orang tua memiliki keterlibatan dalam memberikanpendidikan kepada anak-anaknya, terbukti memberikan banyakdampak positif bagi anak-anak dan pada perkembangnya anak-anak tersebut banyak yang mencapai kesuksesan tatkala merekamenginjak usia dewasa dan terjun ke dalam dunia sosial yang sebenarnya. Di era revolusi komunikasi dan informasi sepertisaat sekarang ini sering dipertanyakan, masihkah lembagakeluarga memiliki peran yang demikian besar dalam proses pendidikan, atau apakah lembaga keluarga masih mampumemerankan fungsinya sebagai lembaga pendidikansebagaimana diharapkan. Atau pertanyaan-pertanyaan sejenis, sekitar persoalan peran pendidikan yang bagaimanakah yang mesti ditunaikan oleh lembaga keluarga dalam era revolusiinformasi dan globalisasi sekarang ini. Sementara kelembagaankeluarga sndiri juga mengalami metamorfosis, perubahan bentukdan peran, di mana tidak lagi bentuk keluarga inti di mana ayah, ibu, dan anak-anaknya hidup dalam sebuah rumah (house) dandalam sebuah rumah tanggakarena tuntutan pekerjaan.
Keluarga dapat disebut juga sebagai lembaga pendidikanyang pertama dan utama. Cakupan makna “pertama dan utama” dapat kita lihat bahwa tidak hanya dalam dimensi waktu ataualur proses terjadinya pendidikan namun juga dalam dimensitanggung jawab. Betapapun proses pendidikan telahdiselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan formal maupun nonformal, secara sosio-historis kehadiranlembagalembaga pendidikan profesional itu merupakanpengganti peran atas peran lembaga keluarga sebagai lembagapendidikan yang utama tadi. Dengan demikian jelas dapatdikatakan lembaga pendidikan profesional itu menerima mandatdari lembaga keluarga untuk menyelenggarakan pendidikan bagipara anggota keluarga.
Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalamberlangsungnya proses pendidikan dan pembentukan perilakuanak yang sesuai dengan nilai karakter yang ada di dalammasyarakat. Pendidikan keluarga, khususnya pendidikan anaktentunya membutuhkan peran orang tua yang sangat besar. Anakyang umumnya berusia antara 0 sampai 12 tahun sangatmembutuhkan arahan, bimbingan dan tuntunan dari orang tuadalam menumbuhkan dan mengembangkan suatu dasarkepribadian yang seimbang, utuh dan selaras nilai-nilaikehidupan, sehingga anak tidak hanya mengetahui nilai karakterdalam masyarakat, tetapi juga mampu menerapkannya dalamkehidupan sehari-hari. Peranan pendidikan keluarga adalah agar anak-anak memiliki bekal dalam mempersiapkanperkembangannya kelak dalam kehidupan dengan masyarakat. Sebab,pada dasarnya manusia mempunyai keinginan untukmeningkatkan dan mengembangkan potensi sesuai dengan nilaikarakter yang tumbuh bersama masyarakat. Implikasi nyatadalam kehidupan bahwa keberhasilan pendidikan karakter bukanterletak pendidikan di sekolah saja, namun yang lebih utamaadalah terletak pada proses pendidikan dalam keluarga, karenaanak lebih mempunyai banyak waktu berinteraksi dengan orang tua dibanding dengan guru di sekolah.
Tahapan atau proses pendidikan karakter anak dalamkeluarga dapat dilakukan oleh orang tua tanpa harus mempunyaigelar khusus, sekolah, atau training khusus karena pendidikan di dalam keluarga berlangsung secara alami tanpa direkayasa. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua untukmelasanakan pendidikan karakter bagi anak yaitu denganmenggunakan beberapa cara antara lainketeladanan, pembiasaan, nasehat dan hukuman serta motivasi terhadap anak. Ada bentuk motivasi lain yang dapat menjadi penyemangatanak, yaitu orang tua harus memperbanyak waktu untukberkumpul dengan anak agar anak merasa selalu diperhatikanoleh orang tua, sehingga dapat menjadi sumber kekuatan bagianak dalam mempelajari dan membentuk karakter sebagaiidentitas diri.
Akan tetapi dalam prakteknya, pendidikan keluarga belumsepenuhnya dilaksanakan oleh para orang tua yang memilikianak-anak di rumah. Banyak faktor mengapa kemudian konseppendidikan di dalam keluarga yang seharusnya telah diberikanoleh orang tua, belum optimal dipraktikkan dalam kehidupankeseharian para orang tua dalam mendidik anaknya di rumah. Adapun factor penyebab nya adalah: 1) karena kurangnyapengetahuan dan pemahaman para orang tua tentang kedudukanperan dan fungsi serta tanggung jawab para orang tua dalam halpendidikan anak-anak di rumah. Kekurangan pengetahuan danpemahaman bisa disebabkan tingkat pendidikan para orang tuayang rendah, akibat ketidakmampuan dalam penyelesaiansekolah. Hal ini dapat kita jumpai terhadap banyaknya anak-anak putus sekolah, meningkatnya angka pengangguran yang tidak terdidik, serta lemahnya persaingan dalam ranah tenagakerja. 2) Lemahnya peran sosial budaya masyarakat dalammembangun kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga. Keluarga sering kali mengabaikan nilai-nilai edukasi di dalamranah rumah tangga, dengan membiarkan anak-anak bermaindan bergaul tanpa kontrol, kurangnya perhatian tatkala ia sedangberkomunikasi dengan sesamanya. Sikap apatis sebagian besarpara orang tua terhadap tata krama pergaulan anak-anak di lingkungan bermain. 3) Kuatnya desakan dan tarikan pergulatanekonomi para orang tua dalam memenuhi tuntutan dankebutuhan keluarga. Sehingga mengabaikan peran-peran sebagaifungsi dan tugas orang tua bahkan ada yang tanpa disadari, akibat tuntutan kebutuhan ekonomi mereka (ayah dan ibu) lupaakan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Mereka tinggalkananak-anak tanpa perhatian, bimbingan dan pendidikansebagaimana mestinya. Dalam banyak kasus, di depan mata kitasendiri menyaksikan banyak anak tumbuh tanpa perhatian orang tua. Bahkan dengan menghela nafas dalam-dalam kitamenyaksikan anak-anak telah dijadikan alat (objek) komersialisasi bagi orang tua untuk mendapatkan penghasilan(uang) untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 4) Kemajuan arusteknologi informasi yang meluas turut pula mempengaruhi caraberpikir dan bertindak para orang tua. Misalnya perilaku instandengan memberi fasilitas media yang tidak mendidik, membiarkan mengakses berbagai informasi tidak mendidik, baikmelalui tayangan media televisi dan pengawasan (proteksi) yang tidak terkontrol, akibat ketidakpedulian para orang tua. Harusdiakui galaunya para stakeholder di negeri ini menyaksikanbanyaknya anak-anak tidak memperoleh perhatian yang besardari para orang tua.
Komentar
Posting Komentar